Wednesday, 1 January 2020

LAPORAN PENDAHULUAN Respiratory Distress Syndrom (RDS)


LAPORAN PENDAHULUAN RDS

1.        DEFENISI
Respiratory Distress Syndrom (RDS) adalah kegagalan napas dalam fase akut ditandai dengan adanya hipoksia, infitrasi difusi pada gambaran foto thoraks, dan tanda kegagalan pompa jantung atau edema pulmonal (Ryoichi Ochiai, 2015).
RDS adalah adanya onset gejala kegagalan napas yang ditunjukkan dengan perubahan gambaran radiografi, edema paru dan ditandai dengan perlunya bantuan pernapasan mekanik tekanan positif pada kategori PaO2/FiO2 200-300 atau bahkan PaO2/FiO2 ≤ 100 jika berat (Harman, M. et al., 2017).
Respiratory Distress Syndrom (RDS) bukan merupakan penyakit tetapi disfungsi pernapasan berat yang ditandai dengan kadar oksigen arteri (PaO2) < 50 mmHg dan kadar karbon dioksida darah arteri (PCO2) > 50 mmHg, yang bisa disebabkan ketidakadekuatan ventilasi aveolar (hipoventilasi), gangguan pertukaran gas, atau mismatch ventilasi-perfusi yang berat (LeMone, et all., 2015).

2.        ANATOMI FISIOLOGI
Anatomi pernapasan terdiri atas saluran pernapasan atas (rongga hidung, sinus paranasal dan faring) dan saluran pernapasan bawah (laring, trakea, bronkus dan alveoli). Saluran pernafasan yang membawa udara ke dalam paru adalah hidung, laring, trakea, brinkus dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika masuk rongga hidung, udara disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, berisilia dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar mukosa. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung sedangkan partikel halus akan terjerat dalam lapisan mukus. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior  ke dalam rongga hidung dan ke suporior didalam sistem pernafasan menuju faring. Dari sini partikel halus akan tertekan atau dibatukkan keluar. Lapisan mukus memberikan air untuk kelembaban dan banyaknya jaringan pembuluh darah dibawahnya akan menyuplai panas ke udara inspirasi.
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. laring terletak di antara faring dan trakea. Berdasarkan letak vertebra servikalis, laring berada di ruas keempat atau kelima dan berakhir di vertebra servikalis ruas keenam. Laring terdiri dari rangkaian cincin tulang rawan yang  dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara. Ruang berbentuk segitiga di antara pita suara bermuara ke dalam trakea dan membentuk bagian saluran pernapasan atas dan bawah. Pada waktu menelan, gerakan laring keatas, penutupan glotis dan fungsi seperti pintu dari epiglotis yang berbentuk daun ada pintu masuk laring, berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Jika benda asing masih mampu masuk melampai glotis, fungsi batuk yang dimiliki laring akan membantu menghalau benda dan sekret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah.
Trakea disokong oleh cincin tulang rawan berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 12,5 cm. Struktur  trakea dn bronkus digambarkan dengan sebuah pohon dan karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. Permukaan posterior trakea agak pipih dibandingkan sekelilingnya karena cincin tulang rawan di daerah itu tidak sempurna dan letaknya tepat didepan esofagus. Akibatnya, jika suatu pipa endotrakea (ET) dimasukkan selama ventilasi mekanik, dapat timbul erosi di posterior membran tersebut dan membentuk fistula trakeoesofangeal. Erosi bagian anterior menembus cincin tulang rawan dapat juga timbul tetapi tidak sering. Pembengkakan dan kerupasan pita suara juga merupakan komplikasi dari pemakaian pipa  endotrakea. Tempat trakea bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan yang disebut karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk berat jika dirangsang.
Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih lebar dibandingkan bronkus utama kiri dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya hampir vertikal. Bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih sempit dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut lebih tajam. Bentuk anatomik yang khusus ini mempunyai keterlibatan klinis yang penting. Satu pipa endotrakea yang telah dipasang untuk menjamin patensi jalan udara akan mudah meluncur kebawah, ke bronkus utama kanan, jika pipa tidak tertahan dengan baik pada mulut atau hidung. Jika terjadi hal demikian, udara tidak dapat memasuki paru kiri dan akan menyebabkan kolaps paru (atelektasis). Namun demikian, arah bronkus kanan yang hampir vertikal tersebut memudahkan untuk masuknya kateter dalam penghisapan yang dalam. Selain itu benda asing yang terhirup lebih sering tersangkut pada percabangan brnkus kanan karena arahnya vertikal.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus sampai menjadi bronkus yang ukurannya kecil sampai ahirnya menjadi bronkus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli. Seluruh saluran udara kebawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran pengantar udara karena fungsi utamanya adlah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru.
Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus (lobus primer) yang merupakan unit fungsional paru yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari bronkiolus respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya, duktus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolus, saktus alveolaris terminalis yaitu struktur akhir paru. Alveolus (dalam kelompok sakus alveolaris menyerupai anggur yang membentuk sakus terminalis) dipisahkan dari alveolus didekatnya oleh dinding tipis (septum). Lubang kecil pada dinding ini dinamakan pori-pori khon.
Terdapat dua tipe lapisan sel alveolar yaitu pneumosit tipe I merupakan lapisan tipis yang menyebar dan menutupi lebih dari 90% daerah permukaan, pneumosit tipe II yaitu yang bertanggung jawab atas sekresi surfaktan. Alveolus pada hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi oleh jaringan kapiler sehingga batas antara cairan dan gas membentuk tegangan permukaan yang cendurung mencegah pengembangan saat inspirasi dan cendurung kolpas pada saat ekspirasi. Alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein (surfaktan) sehingga mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah kolpas pada saat ekspirasi.
Paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut dan terletak dalam rongga dada atau toraks. Mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar memisahkan paru tersebut. Setiap paru mempunyai apeks da dasr. Pembuluh darah paru dan bronkial, bronkus, saraf dan pembuluh limfe memasuki tiap paru pada bagian hilus dan membentuk akar paru. Paru kanan lebih besar daripada paru kiri dan dibagi menjadi tiga lobus oleh fisura interlobaris. Paru kiri dibagi menjadi dua lobus.
Suatu lapisan tipis kontinu yang mengandung kolagen dan jaringan elastis dikenal sebagai pleura, emalpisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi setiap paru (pleura viseralis). Diantara pleura parietalis dan viseralis terdapat suatu lapisan tipis cairan pluera yang berfungsi memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan dan untuk mencegah pemisahan toraks dan paru, yang digambarkan seperti dua buah kaca objek yang akan saling melekat jika ada air. Kedua kaca ini dapat bergeseran satu sama lain tetapi sulit dipisahkan.
Hal yang sama juga berlaku pada cairan pleura di antara paru dan toraks. Tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura parietalis dan pleura viseral sehingga apa yang disebut sebagai rongga plura atau kaitas pleura hanyalah suatu ruangan potensial. Tekanan dalam rongga pleura lebih dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura mungkin mengalami peradangan, udara atau cairan dapat masuk kedalam rongga pleura dan menyebabkan paru tertekan atau kolaps. Tiga faktor yang mempertahankan tekanan negatif yang normal adalah jaringan elastis, kekuatan osmotik dan pompa limfatik.
Paru mempunyai dua sumber suplai darah dari arteria bronkialis dan arteri pulmonalis. Sirkulasi bronkial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuahn metabolisme jaringan paru. Arteria bronkialis berasa dari aorta torakalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus. Vena bronkialis yang besar mengalirkan darahnya kedalam azigos yang kemudian bermuara pada vena kava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena bronkialis yang lebih kecil akan mengaliran darah ke vena pulmonalis. Arteri pulmonalis berasal dari ventrikel kanan mengalirkan darah vena campuran ke paru yaitu darah yang mengambil bagian dalam pertukaran gas. Jaringan kapiler paru yang halus mengitari dan menutupi alveolus merupakan kontak erat yang diperlukan untuk proses pertukaran gas antara alveolus dan darah. Drah teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena pulmonalis ke ventrikel kiri yang selanjutnya membagikannya kepada sel-sel melalui sirkulasi sistemik.
Otot polos terdapat pada takea hingga bronkiolus terminalis dan dikontrol oleh sistem saraf otonom. Persarafan parasimpatis memberikan tonus bronkokonstriktor pada jalan napas. Rangsangan parasimpatis menyebabkan bronkokonstriktor dan peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan sel-sel goblet. Rangsangan simpatis terutama ditimbulkan oleh epineprin melalui reseptor-reseptor adrenergik beta dan menyebabkan relaksasi otot polos bronkus, bronkodilasi dan berkurangnya sekresi bronkus. Stimulasi serat saraf ini terletak pada nervus vagus dan menyebabkan bronkodilasi dan neurotransmiter yang digunakan adalah nitrogen oksid. Reseptor-reseptor jalan napas bereaksi terhadap iritan-iritan mekanik ataupun kimia yang dapat menimbulkan masukan sensoris melalui jaras vagus aferen dan dapat menyebabkan bronkokonstriksi, peningkatan sekresi mukus dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Pemahaman tentang pengontrolan saraf jalan napas berperan penting dalam pemahaman patofisiologi asma dan farmakoterapinya.
Mekanisme pertahanan fungsi pernapasan meliputi penyaringan udara, pembersihan mukosiliaris, refleks batuk, fefleks menelan dan refleks muntah, refleks bronkokonstriksi, makrofag alveolus dan ventilasi kolateral.
a.         Penyaringan udara: bulu hidung menyaring partikel berukuran < 5 µm sehingga partikel tersebut tidak dapat mencapai alveolus dan udara ang mengalir melalui nasofaring sangat turbulen sehingga partikel yang lebih kecil akan terperangkap dalam sekresi nasofaring.
b.         Pembersihan mukosiliaris: dibawah laring eksalator mukosiliatis akan menjebak partikel-partikel debu yag terinhalasi dan berukuran lebih kecil serta bakteri yang melewati hidung, mukus akan terus menerus membawa partikel dan bakteri tersebut ke atas sehingga bisa ditelan atau dibatukkan; gerakan siliaris dihalangi oleh keadaan dehidrasi, konsentrasi O2 yang tinggi, merokok, infeksi, obat anastesi dan meminum etil alkohol.
c.         Refleks batuk: refleks pertahanan bekerja membersihkan jalan napas dengan menggunakan tekanan tinggi, udara yang mengalir dengan kecepatan tinggi; yang akan membantu kerja pembersihan mukosiliatis bila mekanisme ini kerja berlebihan atau tidak efektif; dibawah tingkat segmen pohon bronkial, refleks batuk menjadi tidak efetif, sehingga diperlukan kerja mukosiliaris atau drainase postural.
d.        Refleks menelan dan refleks muntah: mencegah masukanya makanan atau cairan kesaluran pernapasan.
e.         Refleks bronkokonstriksi: respon untuk mencegah iritan terinhalasi dalam jumlah besar, seperti debu atau serosol, beberapa penderita asma memiliki jalan napas hipersensitif yang akan berkontraksi setelah menghirup udara dingin, parfum atau bau menyengat.
f.          Makrofag alveolus: pertahanan utama pada tingkat alveolus; bakteri dan partikel-partikel debu difagosit; kerja makrofag dihambat oleh merokok, infeksi virus, kortikosteroid dan beberapa penyakit kronik.
g.         Ventilasi kolateral: melalui pori-pori khon yang dibantu oleh napas dalam, mencegah atelektasis.
Proses fisiologi pernapasan dapat dibagi menjadi tiga stadium yaitu:
a.         Ventilasi yaitu masuknya campuran gas kedalam dan keluar paru.
b.         Transportasi yaitu difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru dan antara darah sistemik dan sel sel jaringan, distribsi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus, reaksi kimia dan fisik dari O2  dan CO2
c.         Respirasi sel atau respirasi interna merupakan stadium akhir respirasi yaitu saat zat-zat dioksidasi untuk mendapatkan energi dan CO2 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru.

(Price & Wilson, 2005; Muttaqin, 2008)

Asuhan Keperawatan pada Tn A dengan HIV/AIDS dengan menggunakan Teori Calista Roy


TINJAUAN TEORITIS HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)

A.    Definisi
1.      HIV
Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh khususnya sel CD4 (sel T) serta menghancurkan dan merusak fungsinya. Pada saat infeksi menjadi berlanjut sistem kekebalan akan menjadi lebih lemah, dan orang yang terinfeksi HIV akan menjadi lebih rentan terhadap infeksi serta atau kanker terkaat infeksi (WHO South East Asia, 2017, CDC, 2016).
2.      AIDS
AIDS (Acquried Immunodeficiency Syndrome) adalah sindrome imunodefisiensi yang merupakan infeksi tahap lanjut dari infeksi HIV yang ditandai dengan terjadinya salah satu infeksi oportunistik dari lebih dari 20 infeksi oportunistik atau kanker terkait HIV (WHO South East Asia, 2017), waktu yang diperlukan 10-15 tahun bagi orang yang terinfeksi HIV untuk berkembang menjadi AIDS (WHO South East Asia, 2017).

B.     Anatomi Fisiologi
Sistem yang melindungi tubuh dari infeksi yang diakibatkan oleh mikroorganisme, membantu proses penyembuhan, serta membuang dan memperbaiki sel yang rusak jika terjadi infeksi adalah sistem imun. Sistem imun juga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang bukan berasal dari dirinya. Perubahan yang terjadi pada sistem imun dapat menimbulkan serangan terhadap sel itu sendiri atau ketidakmampuan berespon dan menyembuhkan tubuh dari infeksi. Sistem imun di kontrol oleh sel darah putih.
 Sel darah putih terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, makrofag, limfosit B dan limfosit T. Sel darah putih ini di produksi oleh sel stem (origonator) yang disebut stem pluripoten dalam sumsum tulang. Sel yang dihasilkan kemudian berdiferensiasi dan menghasilkan satu jenis sel darah.  Sel limfosit adalah limfosit T dan limfosit B sejenis sel pembunuh alami. Limfosit dihasilkan di dalam sumsum tulang dan mencapai kematangan struktur tersebut atau di limfoid.  Tubuh memiliki 25 juta sel T yang berbeda dan setiap sel memiliki reseptor antigen yang spesifik. Sel T memiliki reseptor pada seluruh permukaannya dimana reseptor tersebut dapat mengikat antigen virus.
Gambar 1. Sistem kekebalan tubuh sel darah putih

Sel T menyusun sistem imun selular. Pematanngan sel T berlangsung selama pergerakan melalui kelenjar timus. Sel T akan tetap inaktif sampai sel tersebut bertemu dengan molekul spesifik dan telah diprogram untuk berespon terhadapnya selama perkembangannya. Ketika bertemu molekul asing sel T akan aktif dan secara langsung melepaskan zat-zat kimia yang mewaspadakan sel B akan berhadapan dengan lawan dengan membangkitkan respon humoral. Sel T diperlukan  untuk mengenali dan menghancurkan parasit dan virus yang tersembunyi di dalam sel karena sel B tidak mampu menghadapinya. Sel T merupakan salah satu tipe sel darah putih yang memiliki peran sebagai antibodi. Sel T akan bekerjasama dengan makrofag menyerang virus atau bakteri namun secara spesifik menyerang virus sedangkan makrofag menyerang benda benda asing secara umum. Sel T melindungi tubuh dengan mengaktifkan sistem imun.
Limfosit B matang di sumsum tulang dan setelah matang sel B akan beredar dalam darah berbentuk inaktif dan menjadi aktif hanya setelah terpajan pada molekul spesifik biasanya protein atau karbohidrat besar dari molekul   asing.  Sel B menyusun sistem imun humoral yang berarti bahwa sel-sel tersebut bersirkulasi dalam darah.
Organ imun terdiri dari sumsusm tulang, tonsil, nodus limfatikus, limpa, jaringan limfoid yang berikatan dengan usus (gut associatiated lymphoid tissue (GALT)), kelenjar timus. Kelenjar timus terletak dimediastinum dan mencapai puncak perkembangannya pada saat anak-anak setelah pubertas timus mulai mengalami atropi namun organ sisa masih tetap ada hingga tua. Timus menyekresikan hormon yang berfungsi pada pemeliharaan dan fungsi populasi sel T perifer.
Gambar 3: Organ Sistem Immune


Jenis dan fungsi sel T:
a.       Sel T Sitotoksik (sel CD8 + T)
Sel T sitotoksik ini berperan dalam penghancuran langusng sel-sel yang telah terinfeksi virus. Sel ini mengandung butiran (kantung yang berisi enzim pencernaan atau zat kimia yang lain) sehingga akan membuat pecah sel target atau apoptosis
b.      Sel T Pembantu atau T Helper ( sel CD4 + T)
Berfungsi untuk mengendapkan produksi antibodi sel B dan juga memproduksi zat yang mengaktifkan sel T sitotoksik dan makrofag
c.       Sel T regulatory
Berfungsi untuk menekan respon sel B dan sel T lainnya terhadap antigen. Penekanan ini diperlukan agar respon imun tidak berlanjut begitu tidak lagi dibutuhkan.
d.      Sel T Killer
Berfungsi untuk membedakan sel yang terinfeksi atau kanker dari sel tubuh normal dan sel serangan yang tidak mengandung penanda molekuler yang mengidentifikasi mereka sebagai sel tubuh.
e.       Sel T Memory
Berfungsi untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali antigen yang sebelumnya ditemukan serta meresponsnya dengan lebih cepat untuk jangka waktu yang lebih lama.

Gambar 2. Sel Limfosit T
















ASUHAN KEPERAWATAN
APLIKASI TEORI SELF CARE DOROTHEA OREM PADA Tn. A DENGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)
Data Umum
Masuk Rumah Sakit
Tanggal Pengkajian 
Diagnosa Masuk
D/ Saat Pengkajian 
:

:

:
:
12-11-2019

08-11-2019

TB Paru, HIV


Identitas Diri
Nama Pasien     
Jenis Kelamin   
Usia                  
Pendidikan        
Suku/ Bangsa    
Agama              
Status Kawin 
Pekerjaan     
Alamat             
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Tn A
Laki-laki
38 tahun
Sarjana
Jawa/ Indonesia
Islam
Kawin
PNS
H Syaip No 8A

Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit








Keluhan Utama:

Keluarga pasien mengatakan pasien batuk, sesak dan demam sejak 3 minggu yang lalu. Keluarga mengatakan sudah dirawat di Rumah Sakit X selama 2 minggu dan mulai mengkonsumsi OAT. Hasil pemeriksaan anti HCV meningkat dan rasio CD4:CD8 rendah. Pasien di rujuk ke RS Carolus. Di IGD pasien dilakukan pemeriksaan RR 32X/mnt, TD 112/70 mmHg, HR 91 x/mnt, Suhu 370c, AGD dengan hasil PH 7,45, PCO2 33, PO2 99, HCO3 21.2, CO2 total 24, BE 0,00. Pasien dianjurkan rawat di ICU

Keluarga pasien mengatakan pasien batuk, sesak dan demam

aktor conditioning basic
1.      Status kesehatan
Pasien tampak sakit berat, kesadaran kompos mentis, akral teraba panas, pulsasi nadi perifer kuat, suara napas vesikuler, suara tambahan ronchi, pernapasan dengan NRM 10 L/Menit, terpasang infus divena metacarpal sinistra dengan jenis jenis infus asering 500ml/6 jam. TTV: TD:127/68, HR: 107x/menit , S: 39,2, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 98%.
2.      Status perkembangan
Pasien dalam tahap dewasa
3.      Orientasi sosial budaya
Tidak dapat di kaji
4.      Sistem perawatan kesehatan
Keluarga pasien mengatakan kalau sakit berobat ke dokter.
5.      Sistem keluarga
Pasien merupakan kepala keluarga dan tinggal bersama istrinya.
6.      Pola hidup
Keluarga pasien mengatakan tidak banyak tau tentang pola hidup pasien karena sering dinas diluar kota.
7.      Lingkungan hidup
Tidak dapat di kaji
8.      Sumber
Pasien sendiri dan keluarga.
Unuversal Self Care Rqquisites
1.1  Pemeliharaan Kecukupan Oksigen & Sirkulasi
Adequacy of Self-Care
DS: keluarga pasien mengatakan Pasien batuk, sesak dan demam sejak 1 bulan yang lalu
DO: TD:127/68, HR: 107x/menit, S: 39,2, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 98%, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan dahak, suara nafas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, Rongten suspect gambaran TB paru miller.  AGD dengan PH 7,45, PCO2 33, PO2 99, HCO3 21.2, CO2 total 24.

Inadequate
1.2  Pemeliharaan Kecukupan Cairan
Adequacy of Self-Care
DS: keluarga pasien mengatakan pasien banyak minum, setiap kali batuk minum air hangat ¼ gelas dan saat makan minum 2 gelas air hangat
DO : Turgor kulit elastis, bibir kering, suhu 39,2°C, nadi 107 x/m, akral panas, intake oral:1800 cc/24 jam, IV:2405cc/24 jam, output urine 3740 cc/24 jam. total balance cairan +105 CC
Adequate
Unuversal Self Care Rqquisites
1.3 Pemeliharaan Kecukupan Nutrisi
Adequacy of Self-Care
DS: keluarga mengatakan pasien dapat menghabiskan makan yang disediakan
DO: Pasien menghabiskan 1 porsi makan

Adequate  
1.4 Pemeliharaan Kecukupan Eliminasi
Adequacy of Self-Care
DS:-
DO: Pasien terpasang pampers. output urine 3740 cc/24 jam. dari status pasien tertulis pasien BAB 1 kali kemarin dengan konsistensi lembek.

Adequate
1.5 Pemeliharaan Kecukupan Aktivitas & Istirahat
Adequacy of Self-Care
DS: -
DO: Pasien tampak terbaring lemah, aktivitas dibantu penuh oleh perawat. Dari laporan shift malam pasien sering terbangun dari tidurnya karena batuk. Pasien tampak sring menguap dan mengantuk, palpebra berwarna gelap

Inadequate
Unuversal Self Care Rqquisites
1.6 Pemeliharaan Keseimbangan antara Isolasi & Interasi Sosial
Adequacy of Self-Care
Ds :
ð    Adequate
ð    Inadequate
1.7 Pencegahan Faktor Risiko yang Mengancam Hidup, Fungsi Tubuh, dan Kesehatan
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya
Inadequate
1.8 Peningkatan Pemeliharaan Fungsi Diri dan Perkembangan dalam Kelompok Sosial
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya

Adequate
Development Self Care Requisites
Perilaku Khusus sesuai Tahap  Perkembangan atau Perilaku Baru yang Didapatkan seubungan dengan Perubahan Kondisi
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya
Adequate
Health Deviation Self Care Requisites
3.1 Perilaku Mencari Bantuan Medis
Adequacy of Self-Care
Keluarga mengatakan kalau sakit berobat kedokter

Adequate
3.2 Kesadaran terhadap Efek dari Kondisi Patologis
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya

Adequate
 Health Deviation Self Care Requisites
3.3 Kepatuhan terhadap Regimen Terapeutik
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya

Adequate
3.4 Kesadaran terhadap Masalah Ketidaknyamanan terkait Regimen Terapeutik
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya
ð    Adequate
ð    Inadequate
3.5 Modifikasi Konsep Diri akibat Perubahan Status Kesehatan
Adequacy of Self-Care
Tidak dapat di kaji
ð    Adequate
ð    Inadequate
3.6 Pengetahuan tentang Efek dari Kondisi Patologis, Diagnosa Medik, dan Pengobatan
Adequacy of Self-Care
Tidak dikaji karena pasien dan keluarga tidak mau ditanya soal pola hidup dan penyakitnya
ð    Adequate
ð    Inadequate































Pemeriksaan Diagnostik
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Unit / Satuan
Nilai Rujukan

12/10/2019
14/11/2019
2/11/2019
5/11/2019


Radiologi
Rongten thorak AP tegak

Suspect TB miller




Laboratorium






Anti HIV (combo/elisa)
287.50
Reaktif



COI
<0.90: Non Reaktive
0.90-0.99 Greyzone
>=1: Reaktive
CD 4
CD 4 absolut
CD 4 %

10
0,7




404-1612
33-58

Sel/ µL
%
CD 8
CD 8 absolut
CD 8 %

416
28,63




220-1129
13-39

Sel/ µL
%
Rasio CD 4:CD 8
0,02



0,69-2,83
Semakin rendah rasio, semakin tinggi kemungkinan terjadinya komplikasi dan perburukan infeksi
PH
7.41
7.45
7.45
7.44

7.35-7.45
PO2
73.9
99
51
58
mmHg
83-108
PCO2
34.6
32.3
29
25.7
mmHg
35-45
HCO3-
22.5
22.7
20,5
17.6
mmol/L
21-25
Total CO2
22.7
24
21
18
mmol/L
24-30
Base Excess (BE)
-2.2
0.00
-1.80
-3.90
mmol/L
-2.4 - +2.3
O2 Saturation
95
98.50
87.50
91.30
%
95-99%
Haemoglobin

12.6

13.2
g/dl
14.0-16.0
Eritrosit

4.40

4.66
Juta/µL
4.20-6.20
Leukosit

15.06

12.97
10ˆ3 / µL
4.80 – 10.20
Jml Trombosit

371

548
ribu / µL
150 – 450
MCV

84

85
fL
79 – 97
MCH

29

28
pg / mL
27 – 31
MCHC

34

33.3
g / dL
31.4 – 38.5
RDW - CV

13.9

14.2
%
10 – 20
Hitung Jenis






Basofil

0.1

0.1
%
0.3 – 1.0
Eosinofil

0.0

1.1
%
0.7 – 7.0
Neutrofil

89.5

83.0
%
34.0 – 71.1
Limfosit

7.4

13.9
%
19.3 – 53.1
Monosit

3.0

1.9
%
4.7 – 11.5
Albumin


2,46
3.65
g/dl
3,50-5,20
SGOT


44

U/L
10-35
SGPT


43

U/L
10-45
Ureum darah

28




Kreatinin darah

0.6




eGFR

128.4




Natrium

136

137
mmol/L
135-147
Kalium

4.3

4.5
mmol/L
3.5-5.5
Klorida

106

100
mmol/L
94-111

                       
Daftar Obat Pasien
Nama Obat
Dosis
Indikasi
Mycostatin (drop)
4 x 1 cc
Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh jamur pada kulit, tenggorokan, mulut, dan vagina.
Efek samping: Iritasi mulut, rasa mual atau ingin muntah, nyeri abdomen, diare, iritasi kulit dan kulit berwarna kemerahan.
Fluconazole (capsul)
1x 200mg
Untuk mengatasi berbagai jenis infeksi yang disebabkan oleh jamur candida pada vagina, mulut, dan pada saluran kemih.
Untuk membunuh jamur, mencegah infeksi jamur, terutama untuk orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang yang menjalani kemoterapi, pasien transplantasi sumsum tulang, dan pengidap HIV.
Efek samping: Mual atau muntah, Sakit perut, Diare, Sakit kepala, Ruam pada kulit.
Bisolvon
3x1
Bisolvon merupakan obat yang mengandung Bromhexine, obat ini berfungsi mengurangi dan mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan. Bisolvon dimaksudkan untuk mendukung mekanisme tubuh dalam membuang dahak. Bisolvon biasa dikombinasikan dengan obat lain untuk membantu mengobati batuk yang disertai dengan dahak
Rifampicin
1x 450 mg
Rifampicin atau rifampin adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati beberapa infeksi akibat bakteri. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri.
Sejumlah infeksi yang dapat ditangani oleh rifampicin, di antaranya adalah tuberkulosis (TBC) dan kusta. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah meningitis akibat bakteri N. meningitidis dan infeksi bakteri H. influenza tipe B
Isoniazide
1x 300mg
Isoniazid adalah obat yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis (TB). Tuberkulosis merupakan infeksi bakteri yang menyerang paru dan terkadang bagian tubuh lainnya. Bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab tuberkulosis. Pengobatan umumnya berlangsung selama 6 bulan
Ethambutol
1x1000mg
Ethambutol adalah obat yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis. Dalam pengobatan tuberkulosis, obat ini dikonsumsi bersama dengan antibiotik lainnya, baik dalam bentuk tunggal atau tablet kombinasi. Ethambutol bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab tuberkulosis.
Pyrazinamide
1x1000mg
Pyrazinamide adalah salah satu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit tuberkulosis (TB). Pyrazinamide bekerja dengan membunuh dan menghentikan perkembangan bakteri penyebab TB.
Sanprima
4x 1
SANPRIMA merupakan antibiotik dengan kandungan Co-trimoxazol, yaitu kombinasi dari Trimethoprim dan Sulfamethoxazol. Co-trimoxazol bekerja dengan cara menghambat enzim metabolisme asam folat pada bakteri. Trimetropim bersifat bakterisida sedangkan Sulfametoksazol bersifat bakteriostatik.
Fluimucil
3x 200mg
Fluimucil adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit pada saluran pernapasan yang ditandai dengan dahak yang berlebihan, misalnya, bronkitis akut atau kronis, emfisema paru, mucoviscidosis dan bronchiectasis. Obat Fluimucil mengandung acetylcysteine.
Acetylcysteine adalah obat yang berfungsi mengencerkan dahak pada penyakit saluran pernafasan di mana terjadi banyak lendir atau dahak. Obat ini adalah agen mukolitik yang juga dikenal sebagai N-acetylcysteine yang bekerja dengan cara memecah serat asam mukopolisakarida yang membuat dahak lebih encer dan mengurangi adhesi lendir pada dinding tenggorokan sehingga mempermudah pengeluaran lendir pada saat batuk.
Lameson
3x 125mg
Dexamethasone adalah obat kortikosteroid jenis glukokortikoid sintetis yang digunakan sebagai agen anti alergi, imunosupresan, anti inflamasi dan anti shock yang sangat kuat. bekerja dengan cara menembus membran sel sehingga akan terbentuk suatu kompleks steroid-protein reseptor. Di dalam inti sel, kompleks steroid-protein reseptor ini akan berikatan dengan kromatin DNA dan menstimulasi transkripsi mRNA yang merupakan bagian dari proses sintesa protein. Sebagai anti inflamasi, obat ini menekan migrasi neutrofil, mengurangi produksi prostaglandin (senyawa yang berfungsi sebagai mediator inflamasi), dan menyebabkan dilatasi kapiler. Hal ini akan mengurangi repon tubuh terhadap kondisi peradangan (inflamasi).
Terapi cairan intravena
Asering   500 ml/6 jam


Daftar Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi
2.      Ketidakefektifan Bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi mucus
3.      Infeksi









INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama              : Tn A
Unit                 : VIP ICU
No
Therapeutic self-care demand
Adequacy of self care agency
Nursing diagnosis
Outcomes and Plan

Outcome
Nursing planning
Design of the nursing system
Method of helping

Ds: keluarga pasien mengatakan pasien batuk dan sesak
DO: TD:127/68, HR: 107x/menit, S: 39,2, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 98%, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan dahak, suara nafas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, Rongten suspect gambaran TB paru miller.  AGD dengan Ph 7.45; PO2 51; PCO2 29; HCO3 20.5, CO2 total 21, BE -1,80
Inadequat
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi

Pertukaran gas kembali adekuat dalam waktu 3x24 jam dengan kriteria hasil:
·      Pemeriksaan AGD dalam batas normal: pH = 7,35-7,45, SaO2 = > 95%, PO2 = 80-100%, PCO2 = 35-45 mmHg, HCO3 = 22-26 mEq/l.
·      RR dalam batas normal = 16-20 x/mnt
·      Suara ronchi tidak ada
·      Sianosis tidak ada
·      Tidak ada Keluhan pusing, penglihatan kabur, gelisah, penurunan kesadaran
1.        Kaji suara paru, frekuensi nafas, kedalam dan usaha nafas
2.        Pantau  status mental (tingkat kesadaran, gelisah, dan konfusi) dan adanya edema perifer, distensi vena jugularis dan JVP
3.        Atur posisi setengah duduk untuk memaksimalkan ventilasi.
4.        Pantau hasil pemeriksaan AGD (pH. PCO2,HCO2,PO2)
5.        Lanjutkan Kolaborasi dalam pemberian therapy bronkodilator (flexotide dan combivent)
6.        Lanjutkan pemberian oksigen NRM 10 l/menit atau intubasi jika terjadi gagal napas
wholly compensatory system
·   Pendampingan
·   Dukungan perawat dan keluarga
·   Ciptakan lingkungan yang nyaman

2
Ds: keluarga pasien mengatakan pasien batuk dan sesak
DO: TD:127/68, HR: 107x/menit, S: 39,2, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 98%, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan dahak, suara nafas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, Rongten suspect gambaran TB paru miller.  AGD dengan Ph 7.45; PO2 51; PCO2 29; HCO3 20.5, CO2 total 21, BE -1,80

Inadequat
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi mukus
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam, bersihan jalan napas kembali efektif, dengan criteria hasil:
·      Pasien dapat mengeluarkan lendir secara mandiri melalui batuk
·      Produksi lendir berkurang
·      Tidak ada suara napas tambahan
·      Lekosit dalam rentang normal: 4.80 – 10.20
·      TTV dalam rentang normal:
TD:110-120/80-90 mmHg
N : 70-80 x/ menit
R : 16-20x/mnt
S : 36-37 oC
Ongoing assessment
1.         Auskultasi suara napas, catat adanya suara napas tambahan dan penggunaan otot bantu pernapasan
2.         Kaji batuk berlendir yang dialami pasien
3.         Monitor status oksigenasi pasien
4.         Observasi saturasi oksigen

Therapeutic Intervention
5.         Berikan posisi tidur semi fowler
6.         Bantu pasien untuk batuk efektif
7.         Lanjutkan pemberian terapi bisolvon 3x1 amp
avelox 1x400mg,
flexotide 1 fls dan combivent 1 fls menggunakan nebulizer, Lameson 2x125, rifampicin 1x450mg, Isoniazid 1x300mg, fluconazole 1x200mg, ethambutol 1x1000mg, Pyrazinamide 1x1000mg, sanprima forte 4x1tab, Fluimucil 3x200mg, Mycostatin 4x1cc
wholly compensatory system


·   Pendampingan
·   Dukungan perawat dan keluarga
·   Ciptakan lingkungan yang nyaman
3
Ds: -
Do : badan teraba panas, Suhu 39.2oc, bibir kering, Leukosit 17, Anti HIV 287.50;  CD 4 10 Sel/ µL; CD 8 0.7 %; Rasio CD 4 : CD 8 adalah 0.02

Inadequat
Infeksi
Dalam waktu 3x 24 jam proses infeksi dapat menurun dengan kriteria hasil
·         Akral hangat
·         Suhu dalam batas normal 36.0-37.0
·         Tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi opportunistic seperti: nyeri kepala, menggigil, nyeri sendi ataupun kehilangan nafsu makan
1.      Monitor sel CD4 dan viral load
2.      Intsruksikan dalam terminology yang biasa digunakan dalam perawatan: jumlah CD4, viral load, dan efek samping pengobatan antiretroviral (ARV)
3.      Mendorong kepatuhan terapi dan menghindari putus obat
4.      Ikuti peraturan setempat untuk memperoleh persetujuan terpisah untuk diuji HIV dan selanjutnya untuk melaporkan hasilnya kepada departemen kesehatan
Partly compensatory
Edukasi


PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur  :Tn A/ 37 tahun
Ruang /Kamar : ICU/ VIP I
Tanggal
Waktu
DP
Pelaksanaan Keperawatan
Nama Jelas
05/11/2019

08.00

DP I, II, III

Mengkaji keadaan umum pasien (pasien tampak sakit berat, terbaring semifowler, kesadaran compos mentis, GCS 15, akral panas, pulsasi kuat, CRT kembali <3 detik, tampak sesak, suara napas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, TD:127/68, HR: 107x/menit, S: 39,2, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 98%, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan dahak, EKG monitor sinus takikardi)
D


08.10
DP I, II, III

Memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein kalori: pasien tampak mengahabiskan 1 porsi makanan yang diberikan
Memberikan terapi farmadol 50 cc


09.00
DP I, II
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 116/68mmHg, N 115x/menit, P 22x/mnt, SaO2 92%)


09.10
DP I, II
Memberikan therapy oral pasien : Fluconazole 1 tablet, Ethambutol 2 tablet, Sanprima forte 1 tablet, Fluimucil 1 kapsul, Mycostatin 1 cc.


09.15
DP I, II, III

Memberikan therapy injeksi pasien : bisolvon 1 amp dan avelox 400 mg, pranza 40 mg.


09.30
DP II
Memberikan terapi nebulizer: Flixotide 1 fls dan combivent 1 fls
Memberikan air hangat dan mengajarkan batuk efektif : pasien batuk dan belum mampu mengeluarkan dahak


10.00
DP I, II,III
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 127/68 mmHg, N 120x/menit, P 19x/mnt, SaO2 90%)
Memberikan posisi semi fowler 45 0


10.30
DP I, II,III
Memberikan susu hangat dan bubur kacang hijau: pasien mengahbiskan 1 gelas (200cc) susu dan setengah gelas bubur kacang hijau


11.00
DP I, II,III
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 119/69 mmHg, N 94x/menit, P 17x/mnt, suhu 36.9, SaO2 94%)


12.00
DP 1, II, III
Mengkaji keadaan umum pasien: pasien tampak sakit berat, terbaring semifowler, kesadaran compos mentis, GCS 15, akral hangat, pulsasi kuat, CRT kembali <3 detik, tampak sesak, suara napas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, TD 120/66; Nadi 112x/menit; pernapasan 26x/menit, suhu 36,50c, saturasi 87%, EKG monitor sinus takikardi, tidak ada sianosis, pulsasi kuat, bibir lembab, tidak ada keluhan pusing, hasil AGD: PH 7.44; PO2 58; PCO2 25.7; HCO3 17.6; CO2 total 18; BE -3.90. Hb 13.2g/dl; leukosit 12.970
Balance cairan per 6 jam - 148 cc


12.30

Memberikan diet pasien: Pasien mampu menghabiskan ½ porsi makanan yang disediakan, 1 gelas jus buah dan 200 cc air putih
Memberikan therapy oral Pyrazinamide 2 tablet, Sanprima 1 tablet, Fluimucil 1 tablet, Mycostatin 1 cc
Memberikan terapi farmadol 50 cc


























PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur  :Tn A/ 37 tahun
Ruang /Kamar : ICU/ VIP I
Tanggal
Waktu
DP
Pelaksanaan Keperawatan
Nama Jelas
05/11/2019

08.00

DP I, II, III

Mengkaji keadaan umum pasien (pasien tampak sakit berat, terbaring semifowler, kesadaran compos mentis, GCS 15, akral hangat, pulsasi kuat, CRT kembali <3 detik, tampak sesak, suara napas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, TD:109/65, HR: 97x/menit, S: 36.9, RR: 32 x/ menit dan saturasi oksigen 94%, tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan dahak, EKG monitor sinus rythem)


08.10
DP I, II, III

Memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein kalori: pasien tampak mengahabiskan ½ porsi makanan yang diberikan
Memberikan terapi farmadol 50 cc


09.00
DP I, II
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 114/61mmHg, N 106x/menit, P 27x/mnt, SaO2 89%)


09.10
DP I, II
Memberikan therapy oral pasien : Fluconazole 1 tablet, Ethambutol 2 tablet, Sanprima forte 1 tablet, Fluimucil 1 kapsul, Mycostatin 1 cc.


09.15
DP I, II, III

Memberikan therapy injeksi pasien : bisolvon 1 amp dan avelox 400 mg, pranza 40 mg.


09.30
DP II
Memberikan terapi nebulizer: Flixotide 1 fls dan combivent 1 fls
Memberikan air hangat


10.00
DP I, II,III
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 108/68 mmHg, N 112x/menit, P 34x/mnt, SaO2 93%)
Memberikan posisi semi fowler 45 0


10.30
DP I, II,III
Memberikan susu hangat dan bubur kacang hijau: pasien mengahbiskan 1 gelas (200cc) susu dan bubur kacang hijau


11.00
DP I, II,III
Mengobservasi tnda-tanda vital (TD 106/64 mmHg, N 93x/menit, P 27x/mnt, SaO2 95%)


12.00
DP 1, II, III
Mengkaji keadaan umum pasien: pasien tampak sakit berat, terbaring semifowler, kesadaran compos mentis, GCS 15, akral hangat, pulsasi kuat, CRT kembali <3 detik, tampak sesak, batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan slyem, suara napas tambahan ronchi pada kedua lapang paru, TD 104/61; Nadi 93x/menit; pernapasan 34x/menit, suhu 36,60c, saturasi 95%, EKG monitor sinus rythem, tidak ada sianosis, tidak ada nyeri dada, pulsasi kuat, bibir lembab, tidak ada keluhan pusing. Balance cairan per 6 jam + 370 cc


12.30

Memberikan diet pasien: Pasien mampu menghabiskan ½ porsi makanan yang disediakan, 1 buah pudding, 1 gelas jus buah dan 200 cc air putih
Memberikan therapy oral Pyrazinamide 2 tablet, Sanprima 1 tablet, Fluimucil 1 tablet, Mycostatin 1 cc
Memberikan terapi farmadol 50 cc
































EVALUASI KEPERAWATAN

Nama / Umur  :Tn A/ 37 tahun
Ruang /Kamar : ICU/ VIP I
Tanggal
Evaluasi ( S .O. A.P )
Nama Jelas
05/11/2019

DP I
S: Pasien mengatakan masih sesak
O: TD 120/66; Nadi 112x/menit; pernapasan 26x/menit, suhu 36,50c, saturasi 87%,
Kesadaran compos mentis
Tidak ada sianosis
Pulsasi kuat, bibir lembab, CRT <3 detik
Tidak ada keluhan pusing
Akral hangat
Pulsasi kuat
Pasien tidak gelisah
Balance cairan per 6 jam - 148 cc
A: gangguan pertukaran gas belum teratasi
P: intervensi diteruskan

DP II
S: Pasien mengatakan masih batuk dan sesak
O: Pasien tampak batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan slyem
Ronchi pada kedua lapang paru
      Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
      TD 120/66; Nadi 112x/menit; pernapasan 26x/menit, suhu 36,50c, saturasi 87%,
A: Bersihan jalan napas tidak efektif belum teratasi
P: intervensi diteruskan

DP III
S:-
O: pasien tampak sakit berat, kesadaran compos mentis
    Tidak ada keluhan pusing, nyeri sendi, gelisah
       TD 120/66; Nadi 112x/menit; pernapasan 26x/menit, suhu 36,50c, saturasi 87%, Hb 13.2g/dl; leukosit 12.970
A: infeksi belum teratasi
P:  intervensi diteruskan







EVALUASI KEPERAWATAN

Nama / Umur  :Tn A/ 37 tahun
Ruang /Kamar : ICU/ VIP I
Tanggal
Evaluasi ( S .O. A.P )
Nama Jelas
06/11/2019

DP I
S: Pasien mengatakan masih sesak
O: TD 104/61; Nadi 93x/menit; pernapasan 34x/menit, suhu 36,60c, saturasi 95%, EKG monitor sinus rythem
Kesadaran compos mentis
Tidak ada sianosis
Pulsasi kuat, bibir lembab, CRT <3 detik
Tidak ada keluhan pusing
Akral hangat
Pulsasi kuat
Pasien tidak gelisah

A: gangguan pertukaran gas belum teratasi
P: intervensi diteruskan



DP II
S: Pasien mengatakan masih batuk dan sesak
O: Pasien tampak batuk tetapi tidak bisa mengeluarkan slyem
Ronchi pada kedua lapang paru
      Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
      TD 104/61; Nadi 93x/menit; pernapasan 34x/menit, suhu 36,60c, saturasi 95%, EKG monitor sinus rythem,
Balance cairan per 6 jam + 370 cc
A: Bersihan jalan napas tidak efektif belum teratasi
P: intervensi diteruskan

DP III
S: -
O: pasien tampak sakit berat, kesadaran compos mentis
    Tidak ada keluhan pusing, nyeri sendi, gelisah
       TD 104/61; Nadi 93x/menit; pernapasan 34x/menit, suhu 36,60c, saturasi 95%, EKG monitor sinus rythem
A: infeksi belum teratasi
P:  intervensi diteruskan



LAPORAN PENDAHULUAN Respiratory Distress Syndrom (RDS)

LAPORAN PENDAHULUAN RDS 1.         DEFENISI Respiratory Distress Syndrom (RDS) adalah kegagalan napas dalam fase akut ditandai ...